PEKANBARU (RJ) - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau memperkuat pemantauan kesehatan masyarakat. Ibu hamil, bayi, lansia, balita, dan kelompok rentan menjadi perhatian khusus, terutama di daerah yang terdampak asap.
Dinkes Riau kini berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota untuk memetakan kelompok rentan yang membutuhkan dukungan kesehatan, termasuk tambahan makanan dan vitamin.
Kepala Dinkes Riau Zulkifli, Selasa (25/8/2026) mengatakan, koordinasi telah dilakukan dengan sejumlah daerah, termasuk Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan.
"Kami sudah kontak dengan Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan untuk memetakan ibu hamil, bayi dan kelompok rentan yang terdampak kabut asap. Kami akan support asupan makanan tambahan dan vitamin," kata Zulkifli.
Selain memantau kelompok rentan, Dinkes Riau juga terus mengawasi perkembangan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak.
Dalam periode 19-22 Agustus 2026, tercatat 445 kasus ISPA di empat kabupaten/kota. Rinciannya, 211 kasus pada 19 Agustus, 71 kasus pada 20 Agustus, 108 kasus pada 21 Agustus dan 55 kasus pada 22 Agustus.
Pekanbaru menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak dalam periode tersebut, yakni 97 kasus pada 19 Agustus, 20 kasus pada 20 Agustus, 47 kasus pada 21 Agustus dan 13 kasus pada 22 Agustus.
Kampar mencatat 48 kasus pada 19 Agustus, empat kasus pada 20 Agustus, enam kasus pada 21 Agustus dan tiga kasus pada 22 Agustus.
Sementara Pelalawan mencatat 44 kasus pada 19 Agustus, 26 kasus pada 20 Agustus dan 36 kasus pada 21 Agustus. Sedangkan di Siak tercatat 22 kasus pada 19 Agustus.
Secara kumulatif, data Kementerian Kesehatan hingga 21 Agustus 2026 mencatat 1.948 kasus ISPA di Riau. Selain itu, terdapat 43 kasus asma, 36 kasus iritasi kulit dan 16 kasus konjungtivitis.
Meski kasus ISPA masih ditemukan, Zulkifli menyebut perkembangannya belum menunjukkan peningkatan signifikan. Dinkes tetap mengutamakan langkah pencegahan agar paparan asap tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.
"Alhamdulillah, kasus ISPA ini dapat teratasi. Agar tidak terjadi peningkatan kasus, kami terus mengedepankan langkah preventif dengan mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar," imbaunya.
Dinkes Riau juga memastikan fasilitas kesehatan tetap siap menghadapi kemungkinan kondisi darurat. Puskesmas telah diminta menyiagakan tim layanan kegawatdaruratan serta memastikan ketersediaan oksigen, khususnya untuk pasien yang mengalami sesak napas.
"Di Puskesmas sudah ada tim layanan emergency. Oksigen juga sudah disiapkan dan distandby-kan sebagai pertolongan pertama bagi pasien yang mengalami sesak napas," kata Zulkifli.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kualitas udara di dalam rumah. Ketika kabut asap semakin pekat, ventilasi atau bukaan yang memungkinkan asap masuk dapat dikurangi.
Kelompok rentan seperti lansia, balita, ibu hamil dan warga dengan riwayat penyakit pernapasan diminta meningkatkan kewaspadaan. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker, menjaga asupan cairan dan mengonsumsi makanan bergizi.
"Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, mata perih atau mual," imbaunya.
Koordinasi antara Dinkes Provinsi Riau, dinas kesehatan kabupaten/kota dan fasilitas pelayanan kesehatan terus diperkuat. Pemantauan dilakukan agar dampak kesehatan akibat kabut asap dapat ditangani lebih cepat dan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius. (*)