Pendidikan - Pendidikan

Kemendikdasmen Sinkronkan Pusat dan Daerah, Pastikan Program Pendidikan Tepat Sasaran

Administrator
532 view
Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat.
JAKARTA (RJ) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar pelaksanaan program prioritas pendidikan tidak tumpang tindih dan benar-benar dirasakan masyarakat.

Hal ini ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, saat membuka Konsolidasi Daerah di Sumatra Selatan.

Kemendikdasmen menegaskan pentingnya sinkronisasi kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengawal program prioritas pendidikan.

Wamendikdasmen menyampaikan bahwa koordinasi yang kuat diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan yang berujung pada lemahnya akuntabilitas.

"Konsolidasi ini menjadi wadah agar kewenangan pusat dan daerah tidak saling overlap, tetapi saling menguatkan demi memastikan program benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya saat membuka Konsolidasi Daerah (Konsolda) di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatra Selatan.

Kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan Komitmen Bersama antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan, serta 17 pemerintah kabupaten/kota untuk mendukung pelaksanaan program prioritas Kemendikdasmen.

Direktur SMA Kemendikdasmen Winner Jihad Akbar, menjelaskan bahwa forum ini bertujuan menyelaraskan implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan agar kebijakan pusat dan daerah berjalan seirama. Program yang dikawal meliputi revitalisasi sekolah, digitalisasi, hingga Makan Bergizi Gratis.

Dalam arahannya, Wamendikdasmen menyoroti besarnya anggaran revitalisasi yang hampir mencapai Rp90 triliun untuk sekitar 71 ribu satuan pendidikan. Ia menekankan pentingnya kualitas pembangunan dan pengawasan yang ketat.

"Jangan sampai laporan selesai, tetapi bangunannya miring. Jangan sampai sekolah rusak berat hanya mendapat pembangunan toilet saja," tegasnya.

Ia juga menyinggung masih adanya sekolah dengan fasilitas sangat terbatas, termasuk bangku belajar yang tidak layak. Karena itu, revitalisasi dinilai krusial agar siswa bisa belajar di lingkungan yang aman dan nyaman.

Menutup kegiatan, Atip mengingatkan para guru untuk menerapkan metode "Pembelajaran Mendalam" agar proses belajar lebih bermakna. Menurutnya, guru harus menguasai materi dengan baik dan mampu menyampaikan pelajaran secara menarik sehingga siswa benar-benar terlibat dalam proses belajar. (*)

Penulis
: Administrator