Sawit Riau Hasilkan 9,4 Juta Ton CPO per Tahun, 61 Persen Berasal dari Perkebunan Rakyat

Administrator
501 view
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto.

PEKANBARU (RJ) - Sektor perkebunan menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi Riau. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto menyebut, luas perkebunan kelapa sawit di Riau mencapai sekitar 3,88 juta hektare dengan produksi sekitar 9,4 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun.

Hal itu disampaikan SF Hariyanto saat memaparkan potensi dan tantangan sektor perkebunan Riau di hadapan Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan dalam kegiatan PKKMB Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Rabu (16/9/2026).

"Kalau kita melihat Riau dari kekuatan dasarnya, salah satu yang terbesar adalah perkebunan," kata SF Hariyanto.

Ia menjelaskan, luas perkebunan sawit Riau menyumbang sekitar 21 persen dari total areal sawit nasional. Sementara produksinya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap produksi CPO nasional.

Yang menarik, sekitar 61 persen perkebunan sawit di Riau merupakan perkebunan rakyat.

"Artinya, sawit bukan hanya komoditas utama, tetapi menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat," ujarnya.

Tak hanya sawit, Riau juga memiliki potensi besar pada komoditas kelapa dan sagu. Luas perkebunan kelapa mencapai sekitar 441 ribu hektare dengan produksi lebih dari 406 ribu ton kopra atau sekitar 2,2 miliar butir per tahun.

Produksi tersebut menjadikan Riau sebagai daerah dengan produksi kelapa terbesar di Indonesia. Riau juga tercatat sebagai salah satu sentra produksi sagu terbesar di Tanah Air.

Namun, SF Hariyanto mengingatkan besarnya angka produksi tidak boleh membuat pemerintah terlena. Sejumlah persoalan masih perlu dibenahi, terutama pada komoditas kelapa.

"Di sinilah persoalan kita mulai terlihat. Pada komoditas kelapa, misalnya, sekitar 80 ribu hektare atau 18,3 persen tanaman kita sudah berada dalam kondisi tua dan rusak," ungkapnya.

Kondisi tersebut turut berdampak pada penurunan produksi kelapa. Pada 2010, produksi kelapa Riau masih berada di kisaran 2,9 miliar butir. Angka itu turun menjadi sekitar 2,1 miliar butir pada 2020.

Dalam kurun waktu satu dekade, produksi kelapa Riau berkurang sekitar 814 juta butir atau hampir 28 persen.

"Persoalannya bukan hanya peremajaan. Di kawasan pesisir kita menghadapi persoalan tata air, abrasi dan intrusi air laut. Di sisi lain, akses pasar dan hilirisasi produk kelapa kita juga masih perlu diperkuat," tegasnya.

Sementara di sektor pangan, produksi beras Riau pada 2025 tercatat sekitar 133 ribu ton. Jumlah tersebut baru memenuhi sekitar 23 persen kebutuhan konsumsi beras masyarakat Riau.

Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi pangan. Pada Januari hingga Agustus 2026, luas panen padi telah mencapai sekitar 45 ribu hektare dengan produksi lebih dari 175 ribu ton gabah kering giling.

Angka tersebut tumbuh sekitar 6,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Alhamdulillah, produksi pangan terus kita tingkatkan," sebut SF Hariyanto.

Menurutnya, Pemprov Riau terus mendorong optimalisasi lahan, peremajaan tanaman kelapa yang dibarengi pembenahan tata air, penyediaan benih, serta penguatan industri pengolahan.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat nilai tambah komoditas perkebunan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Riau. (*)

Penulis
: Administrator