PEKANBARU (RJ) - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) melalui skrining aktif, edukasi, hingga pendampingan terhadap kelompok berisiko. Langkah ini dilakukan untuk memutus rantai penularan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, jumlah kumulatif kasus HIV hingga triwulan I tahun 2026 tercatat sekitar 3.700 kasus.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan, pemerintah saat ini terus melakukan pemeriksaan secara aktif di sejumlah lokasi sebagai bagian dari upaya deteksi dini.
"Kami sudah melakukan pemeriksaan di Jondul untuk pemeriksaan HIV. Kami terus melakukan pemeriksaan," kata Agung Nugroho, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, selain pemeriksaan, Pemko Pekanbaru juga menjalankan strategi jemput bola terhadap kelompok masyarakat yang dinilai rentan atau berisiko terpapar HIV.
Ia mengatakan, pendekatan tersebut dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh edukasi lebih awal sekaligus mendapatkan pendampingan jika membutuhkan penanganan medis.
"Selama ini orang yang terkena HIV ada yang aktif mengambil obatnya di puskesmas, ada juga yang tidak. Ini kita beri edukasi, kita jemput bola," jelasnya.
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Dedi Sambudi, menyebut pihaknya secara rutin melakukan skrining di sejumlah wilayah, termasuk area yang masuk kategori rawan penularan.
Menurut Dedi, langkah jemput bola menjadi bagian penting untuk memutus mata rantai penularan sekaligus memastikan pasien menjalani pengobatan secara teratur.
"Kita akan cek kembali dan melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang masuk kelompok berisiko," ujarnya.
Selain pemeriksaan, pemerintah juga terus mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya memahami cara penularan HIV agar dapat meningkatkan kewaspadaan dan mencegah penyebaran kasus baru. (*)