Kesehatan - Kesehatan

Pemko Pekanbaru Perkuat Pencegahan HIV/AIDS di Kalangan Remaja

Administrator
503 view

PEKANBARU (RJ) - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memperkuat upaya pencegahan HIV/AIDS di kalangan pelajar SMP dan SMA. Langkah ini menyusul laporan temuan kasus baru pada kelompok usia remaja, sehingga edukasi dan deteksi dini dinilai perlu ditingkatkan untuk melindungi generasi muda dari risiko penularan.

Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar, saat memimpin rapat koordinasi pencegahan HIV/AIDS di lingkungan SMP dan SMA di aula Kompleks Perkantoran Pemerintah Tenayan Raya, Jumat (23/10/2026).

Markarius mengatakan, masa remaja merupakan fase transisi yang rentan. Tingginya rasa ingin tahu, sementara kematangan emosi belum sepenuhnya terbentuk, dapat membuat remaja lebih mudah terpengaruh perilaku berisiko.

Berdasarkan laporan dokter voluntary counselling and testing (VCT) dari puskesmas yang dihimpun dalam rapat koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) sekitar dua bulan lalu, kasus baru HIV/AIDS mulai ditemukan pada kelompok remaja.

Wakil Wali Kota mengaku prihatin dengan temuan tersebut. Meski kasus terbanyak berasal dari kalangan mahasiswa, ia mengingatkan bahwa perilaku berisiko yang dapat berujung pada penularan bisa mulai muncul sejak usia SMP atau SMA.

“Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Saya mengundang Bapak dan Ibu hari ini karena keresahan saya. Pekanbaru ini kota besar dan jumlah kasusnya. Angka terbaru juga banyak berasal dari kalangan remaja,” kata Markarius.

Ia menegaskan, Pemko Pekanbaru tidak bisa tinggal diam. Pencegahan perlu melibatkan berbagai pihak, terutama sekolah, tenaga kesehatan, dan tokoh agama, agar edukasi dapat diberikan sejak dini.

Markarius juga mendorong sosialisasi yang lebih intensif supaya masyarakat memahami risiko HIV/AIDS dan mengetahui cara mencegah penularannya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, ia mengaku telah meminta para ustaz dari Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IMI) menyampaikan pesan pencegahan HIV/AIDS, narkoba, dan perilaku seksual berisiko melalui khotbah Jumat.

Menurut Markarius, penyalahgunaan narkoba dapat meningkatkan risiko penularan HIV apabila pengguna berbagi jarum suntik. Sementara itu, fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit telah menerapkan standar operasional untuk mencegah penularan melalui penggunaan alat suntik.

Markarius turut menyinggung informasi yang diperolehnya saat berkunjung ke Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DKI Jakarta dan Kementerian Kesehatan mengenai laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) sebagai salah satu kelompok yang berkontribusi terhadap penularan HIV/AIDS.

Ia mengajak seluruh unsur masyarakat bekerja sama memperkuat edukasi dan pencegahan, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, perlindungan terhadap remaja membutuhkan keterlibatan bersama agar mereka memahami risiko dan mampu mengambil keputusan yang lebih aman.

“Pemerintah kota berkomitmen penuh melindungi generasi muda kita. Kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus berjuang bersama untuk mencegah HIV/AIDS,” ujar Markarius. (*)

Penulis
: Administrator