PEKANBARU (RJ) - Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid tiba di Pekanbaru dengan pengawalan ketat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (11/3/2026). Ia dipindahkan ke Rumah Tahanan Negara Kelas I Pekanbaru untuk menjalani proses persidangan kasus dugaan korupsi proyek di Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau, sementara sejumlah pendukung tampak menyambut kedatangannya.
Ia akan menjalani proses persidangan kasus dugaan korupsi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Pekanbaru. Tak hanya Abdul Wahid, KPK juga memindahkan dua tersangka lain dalam kasus yang sama, yakni Kepala Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau nonaktif M Arief Setiawan dan tenaga ahli gubernur Dani M Nursalam.
Ketiganya diketahui merupakan tersangka dalam kasus dugaan korupsi pemerasan terkait anggaran proyek di Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau.
Berdasarkan pantauan, mereka berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 07.50 WIB menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 172. Rombongan kemudian mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sekitar pukul 09.25 WIB dan keluar melalui pintu kedatangan sekitar pukul 09.45 WIB.
Ketiganya terlihat mengenakan rompi tahanan oranye khas KPK dengan tangan diborgol. Rompi yang dikenakan Abdul Wahid terlihat bernomor 94. Mereka juga mendapat pengawalan ketat dari petugas Kejaksaan Negeri Pekanbaru serta personel Brimob Polda Riau.
Saat digiring menuju mobil tahanan Kejari Pekanbaru yang telah menunggu di area parkir bandara, awak media sempat menanyakan kondisi Abdul Wahid.
"Gimana kabarnya, Pak Wahid?" tanya wartawan.
"Sehat," jawab Abdul Wahid singkat.
Ketika ditanya terkait kasus hukum yang sedang dihadapinya, ia tidak memberikan tanggapan dan langsung menuju mobil tahanan.
Selanjutnya, Abdul Wahid bersama dua tersangka lainnya dibawa ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Pekanbaru. Pemindahan penahanan ini dilakukan karena proses persidangan akan berlangsung di Pengadilan Tipikor Pekanbaru.
Di sisi lain, kedatangan Abdul Wahid di Pekanbaru juga disambut sejumlah pendukungnya. Kehadiran mereka disebut sebagai bentuk solidaritas terhadap mantan orang nomor satu di Riau tersebut.
Juru bicara sekaligus koordinator Gerakan Keadilan untuk Abdul Wahid, Rinaldi, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan tim kuasa hukum yang saat ini berada di Jakarta untuk mempersiapkan pembelaan dalam persidangan.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pengacara untuk melakukan konsolidasi. Tim hukum menyatakan sangat siap menghadapi sidang pokok perkara," ujarnya.
Menurut Rinaldi, tim pendukung bersama kuasa hukum juga mengklaim telah menemukan sejumlah hal baru yang akan menjadi bagian dari pembelaan di persidangan.
“l"InsyaAllah kami telah menemukan hal-hal baru yang nantinya bisa menjadi senjata di persidangan untuk menunjukkan bahwa Abdul Wahid tidak bersalah," katanya.
Ia menambahkan, keyakinan tersebut juga datang dari orang-orang terdekat Abdul Wahid yang menilai tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak memiliki keterkaitan langsung.
Terkait kehadiran para pendukung di bandara maupun di rumah tahanan, Rinaldi menyebut hal itu sebagai bentuk solidaritas spontan dari masyarakat.
"Solidaritas itu tidak terkoordinasi. Siapa saja yang ingin datang menjemput atau memberikan dukungan silakan saja. Kami juga menerima banyak video yang menunjukkan masyarakat menyambut beliau di rutan," ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak sempat berkomunikasi langsung dengan Abdul Wahid setibanya di Pekanbaru karena pengawalan petugas yang cukup ketat.
"Tidak ada komunikasi langsung. Sepertinya memang dibatasi atau sudah diatur," tuturnya.
Rinaldi juga memastikan kondisi kesehatan Abdul Wahid dalam keadaan baik. Ia menyebut beberapa hari sebelum dipindahkan ke Pekanbaru, Abdul Wahid sempat menjalani pemeriksaan kesehatan di Mayapada Hospital, Jakarta Selatan.
“l"Alhamdulillah sehat-sehat saja. Informasi terakhir beliau juga sempat menjalani pemeriksaan kesehatan beberapa hari lalu," pungkasnya. (*)