RIAUJURNAL.COM, Kuansing - Masyarakat Desa Air Buluh Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuansing resah dengan maraknya perambahan hutan lindung di desanya. Salah satu masyarakat yang enggan disebutkan namanya ini mengatakan kalau masyarakat takut melaporkan kepihak berwajib karena perambahan hutan ini diduga dilakukan oleh kepala desa dan kerabat-kerabatnya.
"Kami hanya bisa melihat dan mendengarkan saja bang, kami takut untuk menegur ataupun melaporkan ke polisi karena pemainnya kepala desa kami sendiri dan kerabat-kerabatnya," ungkap laki paruh baya ini, Kamis (19/05/2022) siang.
Ia pun mengatakan praktek perambahan hutan lindung ini sudah lama terjadi.
"Sebenarnya perambahan hutan di desa kami sudah lama terjadi. Sehingga hutan di desa kami sudah hampir habis dibabat dan dijual ke orang luar, para pelakunya itu-itu saja sehingga kami tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau untuk periode ini mereka memulai saat bulan puasa kemaren, sempat terhenti karena lebaran Idul Fitri, Siap lebaran mereka kembali melancarkan aksinya," sambungnya.
Beranjak dari keterangan salah satu masyarakat tersebut awak media melakukan investigasi ke lokasi yang telah disebutkan, benar saja awak media menjumpai adanya alat berat jenis exskavator yang sedang bekerja mengobrak-abrik hutan lindung di desa Air Buluh.
Saat dikonfirmasi Kepala Desa Air Buluh Ardian tidak mengakui kalau dirinya punya alat berat dan tidak tahu menahu tentang perambahan hutan tersebut.
"Saya tidak ada alat berat bagaimana mungkin saya merambah hutan di hutan lindung.saya tidak tau tentang perambahan tersebut,."jelasnya melalui pesan singkat whatshap nya.
Namun keterangan yang disampaikan kepala desa tersebut jauh berbeda dengan keterangan yang di sampai kan pengurus alat berat bernama Syahrir dan pemilik lahan bernama tukimin.mereka terang terangan mengatakan kalau pemilik alat tersebut adalah kepala desa Air Buluh.
Masyarakat setempat berharap Aparat Penegak Hukum (APH) bisa menindak tegas para pelaku perambahan hutan di desa air Buluh tersebut.