JAKARTA (RJ) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan parfum berbahan dasar kemenyan yang memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional. Di Paris, produk sejenis bisa dibanderol hingga Rp5 juta per botol, meski bahan bakunya dari Indonesia relatif murah.
Selama ini Indonesia dikenal sebagai eksportir bahan mentah minyak atsiri. Melalui Pusat Riset Botani Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dengan menghadirkan produk turunan bernilai tinggi, seperti parfum dan serum kecantikan berbasis kemenyan.
Peneliti BRIN, Aswandi, menyebut Indonesia mengekspor kemenyan mentah sekitar 5-8 ton per tahun dengan nilai mencapai triliunan rupiah. Namun, sebagian besar diolah di luar negeri dan dijual kembali sebagai produk premium.
"Parfum kemenyan di Paris bisa dijual minimal Rp5 juta. Padahal bahan bakunya bisa diperoleh sekitar Rp200 ribu," ujarnya dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026 di Gedung BJ Habibie, Jakarta.
Produk yang dikembangkan BRIN, Styrax Perfumes, telah mengantongi paten dan memiliki kandungan senyawa kompleks seperti bornyl acetate yang memberi aroma kayu dan pedas, serta linalool yang menghasilkan wangi bunga dan jeruk. Parfum ini dirancang sebagai signature perfume dengan konsentrasi tinggi dan manfaat aromaterapi.
Selain kemenyan, BRIN juga meneliti kapur barus alami (kafura) yang nilainya sangat tinggi. Bahkan, satu kilogram kristal kapur alami bisa mencapai Rp100 juta. Permintaan industri dari Paris disebut mencapai ratusan ribu ton per tahun, meski ketersediaan bahan baku masih terkendala kerusakan hutan.
Karena itu, BRIN juga fokus pada konservasi pohon kapur barus di Sumatra Utara guna menjaga keberlanjutan pasokan.
Kepala Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Muhammad Imam Surya, menegaskan kualitas bahan alam Indonesia sangat kompetitif dibanding bahan sintetis impor. Ia mendorong industri dalam negeri untuk lebih mengutamakan produk berbasis sumber daya lokal.
Saat ini, sekitar 80 persen bahan baku kosmetik di Indonesia masih impor. Padahal, banyak bahan mentahnya berasal dari Indonesia yang diekspor murah, lalu kembali dijual ke pasar domestik dalam bentuk produk jadi dengan harga tinggi. (*)